Thursday, February 12, 2026

Buku dan Anak-Anak: Hubungan yang Perlu Dijaga

Buku dan Anak-Anak: Hubungan yang Perlu Dijaga

Jika dalam tulisan sebelumnya saya mengajak kita melihat bahwa menulis adalah cara belajar sepanjang hayat, maka kali ini saya ingin mengajak kita mundur sedikit dan kembali ke hulu dari semua proses literasi itu: buku dan anak-anak.

Sebab sebelum seseorang menulis, ia lebih dulu membaca. Sebelum seseorang mencintai ilmu, ia lebih dulu bersentuhan dengan cerita. Dan sebelum seseorang percaya diri menyampaikan gagasan, ia lebih dulu mengenal dunia melalui buku.

Sebagai pegiat literasi, saya semakin sadar bahwa hubungan antara buku dan anak-anak bukanlah hubungan biasa. Ia seperti benih dan tanah. Jika dijaga, ia tumbuh. Jika diabaikan, ia mengering.

Bagi sebagian orang dewasa, buku mungkin hanya benda. Tetapi bagi anak-anak, buku adalah pintu. Pintu menuju imajinasi. Pintu menuju empati. Pintu menuju keberanian bermimpi.

Anak yang akrab dengan buku akan memiliki dunia yang lebih luas daripada ruang tempat ia tinggal. Ia bisa mengenal profesi, budaya, sains, tokoh inspiratif, bahkan nilai-nilai kehidupan sebelum benar-benar mengalaminya. Dan di situlah peran kita sebagai pegiat literasi: memastikan pintu itu selalu terbuka.

Hari ini, anak-anak hidup di era gawai. Informasi datang begitu cepat, visual begitu menarik, dan distraksi begitu banyak. Buku sering kali kalah bersaing. Namun yang sering kita lupakan adalah: buku melatih kedalaman.

Membaca buku mengajarkan anak untuk: fokus dalam waktu yang lebih lama, membangun imajinasi sendiri, bukan sekadar menerima visual, memahami alur berpikir, mengasah empati melalui karakter dan cerita.

Jika kita ingin generasi yang mampu berpikir kritis dan reflektif, maka hubungan antara buku dan anak-anak tidak boleh renggang.

Literasi bukan sekadar program. Ia adalah budaya. Dan budaya tidak lahir dari perintah, tetapi dari kebiasaan yang menyenangkan. Anak tidak akan mencintai buku jika buku selalu diposisikan sebagai kewajiban. Ia akan mencintai buku jika buku hadir sebagai teman.

Sebagai guru, orang tua, dan pegiat literasi, kita bisa memulai dari hal sederhana: Membacakan cerita sebelum tidur, Menyediakan sudut baca yang nyaman, Mengajak anak memilih buku yang ia sukai, Memberi contoh bahwa orang dewasa juga membaca

Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jika mereka melihat orang dewasa menikmati buku, mereka akan menirunya.

Tulisan saya sebelumnya tentang Menulis Sebagai Cara Belajar Sepanjang Hayat menegaskan bahwa menulis adalah proses belajar tanpa henti. Namun kita tidak bisa berharap anak gemar menulis jika ia belum akrab dengan membaca.

Hubungan antara buku dan anak-anak adalah fondasi lahirnya generasi penulis, pemikir, dan pembelajar sepanjang hayat. Mungkin hari ini mereka hanya membaca cerita sederhana.
Besok mereka mulai menulis satu paragraf. Lalu suatu hari, mereka menulis gagasan besar yang menginspirasi banyak orang. Semua itu dimulai dari satu hal kecil: kedekatan dengan buku.

Sebagai pegiat literasi, tugas kita bukan hanya membuat program, tetapi menjaga api. Api itu bernama rasa ingin tahu. Api itu bernama imajinasi. Api itu bernama cinta terhadap buku.

Hubungan antara buku dan anak-anak harus dirawat seperti kita merawat tanaman: diberi waktu, perhatian, dan konsistensi. Karena sejatinya, ketika seorang anak mencintai buku, ia sedang membangun masa depannya sendiri.

Dan mungkin, dari tangan-tangan kecil yang hari ini memegang buku cerita, kelak lahir penulis-penulis yang menjadikan menulis sebagai cara belajar sepanjang hayat. Mari kita jaga hubungan itu. Mari kita rawat budaya literasi. Mari kita terus menjadi bagian dari perjalanan anak-anak menuju dunia yang lebih luas melalui buku.

Share:

MINGGU INI