Friday, December 26, 2025

Membaca di Tengah Kesibukan: Mungkin, Jika Mau

Membaca di Tengah Kesibukan: Mungkin, Jika Mau (Sumber Image: Whisk)

Kesibukan sering kali menjadi alasan paling masuk akal ketika kita ditanya, “Kapan terakhir kali membaca buku?”

Pekerjaan menumpuk, waktu habis di perjalanan, urusan keluarga tak ada jedanya. Hari seolah berlari lebih cepat dari niat kita untuk berhenti sejenak dan membuka halaman buku.

Namun, di tengah semua alasan itu, ada satu pertanyaan sederhana yang jarang kita ajukan pada diri sendiri: apakah benar tidak sempat, atau sebenarnya tidak mau?

Saya tidak menulis ini sebagai seseorang yang selalu punya waktu luang. Justru sebaliknya. Aktivitas datang silih berganti, tanggung jawab tak pernah benar-benar kosong. Pernah berada di fase di mana buku hanya menjadi pajangan rak—dibeli dengan niat baik, tapi jarang disentuh. Sampai suatu hari saya menyadari, membaca bukan soal mencari waktu khusus, melainkan soal memberi ruang kecil di sela kesibukan.

Lima menit sebelum tidur.
Sepuluh menit setelah subuh.
Beberapa halaman di antara jeda aktivitas.

Tidak banyak. Tidak harus lama. Tetapi cukup untuk menumbuhkan kembali kebiasaan yang lama hilang.

Sering kali kita membayangkan membaca sebagai aktivitas besar: harus fokus penuh, harus lama, harus selesai satu bab. Padahal, membaca bisa sesederhana menyelami satu halaman dengan sadar. Bukan soal berapa banyak buku yang ditamatkan, melainkan seberapa sering kita memberi kesempatan pada diri sendiri untuk belajar, berpikir, dan merenung.

Di Kotak Ide Indonesia, kami percaya bahwa literasi tidak tumbuh dari paksaan, tetapi dari kesadaran. Kesadaran bahwa membaca adalah kebutuhan, bukan kewajiban. Bahwa di tengah dunia yang serba cepat, membaca justru menjadi cara untuk memperlambat langkah—agar kita tidak kehilangan arah.

Kesibukan tidak akan pernah benar-benar berkurang. Selalu ada alasan baru untuk menunda. Tetapi ketika membaca sudah menjadi pilihan sadar, kita akan selalu menemukan celah. Bukan karena waktu tiba-tiba longgar, melainkan karena kita memutuskan untuk memberi prioritas.

Maka membaca di tengah kesibukan itu mungkin.
Sangat mungkin.
Jika mau.

Dan mungkin, dari kebiasaan kecil itulah, lahir perubahan besar dalam cara kita memandang hidup, belajar, dan dunia di sekitar kita.

Share: